Tuesday, December 15, 2009

Kenapa Orang ISLAM/Melayu Makan Dengan Tangan ?]


Setiap bangsa di dunia ini punya budaya tersendiri. Oleh sebab makan itu satu perkara yang wajib dalam hidup, cara makan juga merupakan satu budaya. Masing-masing bangsa ada budaya mereka tersendiri bagaimana mereka makan.

Misalnya orang Cina menggunakan kayu (chopstick) dan orang Barat pula menggunakan sudu dan garfu. Tentu ada sebab yang rasional kenapa mereka amalkan cara itu.

Orang Melayu makan biasanya menggunakan tangan kanan. Apakah rasionalnya dan kenapa orang Melayu makan dengan tangan ?

Soalan ini dijawab dengan mudah di akhir abad ke- 19 oleh seorang kerabat diraja Kedah yang menetap di Selangor bernama Tengku Kudin. Perkara ini diceritakan oleh seorang isteri pegawai tinggi British yang berkhidmat di Selangor pada masa itu dalam bukunya "Chersonese - The Guilding Off" oleh Emilly Innes.

Pada suatu hari Tengku Kudin telah dijemput oleh British Resident menghadiri satu jamuan makan malam di rumah resident tersebut.

Ketika semua tetamu jemputan telah bersedia untuk menghadapi hidangan, Tengku Kudin tiba-tiba bangun menuju ke arah paip air dan membasuh tangannya. Tanpa menghiraukan orang lain semuanya menggunakan sudu dan garfu, beliau dengan selamba menyuap makanan ke mulutnya dengan tangannya......... !

Telatah Tengku Kudin ini diperhatikan oleh seorang wanita Inggeris yang kebetulan duduk di sisinya. Merasa tertarik dengan perlakuan Tengku Kudin itu wanita tersebut lantas bertanya: "Kenapa anda makan dengan tangan ?

Bukankah menggunakan sudu dan garfu itu lebih bersih dan lebih sopan ?"

Dengan selamba Tengku Kudin menjawab lantang dan dapat didengari oleh orang lain. Katanya:

"Saya makan dengan menggunakan tangan saya sekurang-kurangnya ada tiga sebab:

Pertama: Saya tau tangan saya lebih bersih dari sudu dan garfu sebab saya sendiri yang membasuhnya - bukan orang lain. Sudu dan garfu itu dibasuh oleh orang lain yang belum tentu cukup bersih.

Kedua: Saya yakin tangan saya lebih bersih kerana tangan saya hanya saya seorang saja yang menggunakannya - tidak pernah dipinjam oleh orang lain, sedangkan sudu dan garfu itu ramai yang pernah menggunakannya.

Ketiga: Saya percaya tangan saya lebih bersih kerana ia tidak pernah jatuh dalam longkang.... ......... !!

Jawapan Tengku Kudin ini menjadikan semua orang yang mendengarnya terlopong. Kalau sebelum itu ada antara mereka yang tersenyum sinis melihat Tengku Kudin menyuap makanannya dengan tangan tapi selepas itu masing-masing mengangguk mungkin kerana memikirkan ada logiknya jawapan tersebut....

"Adab-adab Memilih Sahabat"

Antara panduan memilih sahabat

1- Hendaklah memilih sahabat yang TAK MALAS
2- TAK PENTINGKAN DIRI SENDIRI
3- IKHLAS
4- BERAKHLAK MULIA & TAAT KEPADA AGAMA
5-BERSAMA2 DI WAKTU SUSAH & SENANG
6- RAJIN & MAHU DIAJAK BERBINCANG
7- Pilihlah sahabat yang MUDAH MEMAAFKAN KESALAHAN ORG LAIN
8- Bersifat RENDAH DIRI & TIDAK SOMBONG
9- Sering MENGINGATKAN DIRI KEPADA ALLAH & PERKARA BAIK
10- XSUKA BERDUSTA & XJUJUR

Monday, December 7, 2009

Majlis berkhatan sempena cuti sekolah



ai main paip bomba ker


syook men air


wajah-wajar yang berdebar


antara mereka yang tewas huhu

Friday, December 4, 2009

RASA MALU




Sungguh beruntung orang-orang yang memiliki rasa malu. Islam telah memberikan tempat yang mulia bagi perasaan malu. Semaklah beberapa hadis berikut:

Salim bin Abdullah dari ayahnya, mengatakan bahwa Rasulullah S. A.W. lewat pada seorang Anshar yang sedang memberi nasihat (dalam riwayat lain: menyalahkan) saudaranya perihal malu. (Ia berkata, “Sesungguhnya engkau selalu merasa malu”, seakan-akan ia berkata, “Sesungguhnya malu itu membahayakanmu.”) Lalu, Rasulullah S.A.W.. bersabda, “Biarkan dia, karena malu itu sebagian dari iman.” (Shahih Bukhari)

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi S.A.W. bersabda, “Iman itu ada enam puluh lebih cabangnya, dan malu adalah salah satu cabang iman.” (Shahih Bukhari)

*Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya dengan lafal Sab’uuna ‘tujuh puluh’, dan inilah yang kuat menurut pendapat saya, mengikuti pendapat Al-Qadhi Iyadh dan lainnya, sebagaimana telah saya jelaskan dalam Silsilatul Ahaditsish Shahihah (Muhammad Nashiruddin Al-Albani, -red)

Luar biasa kan, bahwasanya rasa malu itu bahkan di masukkan ke dalam salah satu bagian dari keimanan.

Dan yang lebih luar biasa lagi adalah bahwasanya Rasulullah saw, sang teladan terbaik umat manusia, juga memberikan keteladanan dalam urusan rasa malu.

Nabi S.A.W. lebih malu daripada seorang gadis dalam pingitannya. (HR Bukhari)

Hmmm.., lalu apakah rasa rasa malu yang kita miliki bisa menghambat kita dari pengembangan diri, dari tampil di muka umum, dari memberikan koreksi terhadap orang lain, atau dari kebaikan-kebaikan yang harus dilakukan dengan kepercayaan diri (PD), dan terkadang kita masih belum terlalu PD atau masih suka sering salah, seperti misalnya, berbicara di forum formal, forum massal, atau aktivitas yang terlihat orang?

Sesungguhnya bukan itu rasa malu yang sedang kita bicarakan. Rasa malu yang sedang kita bicarakan adalah perasaan malu untuk berbuat kemaksiatan, perasaan malu terhadap Allah, dan perasaan malu kalau tidak berbuat kebaikan. Nah, itulah rasa malu yang sebenarnya.

Kalau dalam konteks rasa malu untuk tampil di depan umum, belum percaya diri, grogi, takut salah, dll, maka mungkin itu lebih tepat digolongkan ke dalam rasa minda.

Karena sesungguhnya rasa malu itu punya tempat, dan rasa malu yang baik itu pasti kan membawa kebaikan bagi pemiliknya.

Hadis riwayat Imran bin Husaini ra., ia berkata: Nabi S.A.W.. pernah bersabda: Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan. (Shahih Muslim)

Jadi, jangan pernah malu jika mau berkembang, belajar, ataupun bertanya, meskipun untuk hal-hal yang terdengar sepertinya “tabu” jika harus diungkapkan di forum umum.

Semak kesaksian ibunda kaum muslimin ketika berbicara mengenai keutamaan wanita-wanita Anshar, yang menyatakan bahwa (kurang lebih), sebaik-baiknya wanita adalah wanita Anshar, rasa malu yang mereka miliki tidak menghalangi mereka dari memperdalam agama.

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Seorang wanita bertanya kepada Nabi SA.W.. tentang cara wanita mandi wajib dari haid? Hadis berkata: Kemudian Aisyah menjelaskan bahwa beliau mengajarkannya cara mandi. (Di antara sabda beliau): Engkau ambil kapas yang diberi misik, lalu bersihkan dengan kapas itu. Wanita itu berkata: Bagaimana cara membersihkannya? Beliau bersabda: Maha suci Allah! Bersihkan saja dengan kapas itu. Dan beliau bersembunyi. (Sufyan bin Uyainah memberi isyarat tangan kepada kami pada wajahnya). Hadis melanjutkan: Aisyah berkata: Aku tarik wanita itu mendekati aku. Aku tahu apa yang diinginkan Nabi saw, lalu aku berkata kepadanya: Bersihkan bekas darah haidmu dengan kapas itu. (Shahih Muslim)

Semak pula pertanyaan seorang muslimah yang sedang bertanya mengenai hal (sangat mungkin) berasal dari pengalaman pribadinya.

Hadis riwayat Ummu Salamah r.a., ia berkata: Ummu Sulaim datang kepada Nabi saw. lalu berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika bermimpi? Rasulullah saw. bersabda: Ya, apabila ia melihat air (mani). Ummu Sulaim berkata lagi: Wahai Rasulullah, apakah wanita juga bermimpi? Beliau bersabda: Beruntunglah engkau. (Kalau tidak demikian), dari mana anaknya mirip dengannya. (Shahih Muslim)

Imam Ali r.a pun memiliki rasa malu, namun rasa malunya tidak menghalanginya dari mencari kejelasan dalam urusan agamanya, lihatlah bagaimana ia dengan cermat mengambil keadah untuk mengatasi rasa malunya.

Hadis riwayat Ali r.a., ia berkata: Aku adalah lelaki yang sering keluar mazi dan aku malu bertanya kepada Nabi S.A.W., karena posisi putri beliau. Lalu aku menyuruh Miqdad bin Aswad. Miqdad lalu menanyakan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda: Hendaknya ia membasuh kemaluannya lalu berwudu. (Shahih Muslim)

Jadi, intinya, milikilah rasa malu, karena rasa malu itu memiliki keutamaan yang tinggi dalam Islam, sehingga akhirnya rasa malu itu bisa menghalangi kita dari berbuat dosa maupun kemaksiatan. Namun, tempatkan rasa malu itu pada koridornya yang benar, untuk beberapa hal, menjadi seorang yang pemalu itu tidak tepat, contohnya ketika ingin menuntut ilmu, ataupun ketika kita akan berbuat kebaikan, karena sesungguhnya rasa malu itu membawa kebaikan.

Wallahu ‘alam.

Ikhlaskah amalan anda ?




“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan” (Q.s. Al-Furqan: 23).

Siapapun kiranya tidak berharap dirinya melakukan sesuatu yang sia-sia. Pasti berharap ada hasil yang baik. Namun kadangkala sebahagian orang terjebak dalam melakukan perbuatan yang sia-sia seumur hidupnya, kerana kelalaian. Kelalaian juga bisa merambah kawasan ibadah atau amalan kebaikan, sehingga tidak ada makna dan hasilnyatidak ada lain kecuali rasa lelah.

Sia-sianya suatu amalan seseorang, menurut Rasulullah, adalah bila dilakukan dengan niat yang bukan ikhlas kerana Allah. Memang sulit mengukur ikhlas tidaknya niat seseorang , tapi biasanya niat akan memberi kesan baik pada perilaku seseorang. Bila seseorang ikhlas melaksanakan sembahyang, maka ia akan sentiasa terlihat seperti baru saja bertemu dengan Allah. Ia baru saja bertemu dengan Sang Pengingat untuk sentiasa hidup baik dan bermanfaat, menjaga silaturrahim, menjauhi, mencegah kejahatan, dan sebagainya.

Ada ketulusan ketika mengucapkan, “(Ya Allah) Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan (yang telah ditempuh oleh) orang-orang yang engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Engkau beri azab dan orang-orang sesat“ (Q.s. Al-Fatihah: 6-7). Ucapan ini meresap ke seluruh tubuh, menggetarkan sanubari.

Namun tidak demikian dengan orang-orang yang tidak ikhlas. Setiap ibadah yang dilakukannya, jika ada, tidak memberi kesan positif kepada perilakunya. Sembahyang hanya di atas sajadah. Setapak di luar sajadah, perilakunya sudah berubah. Itulah tanda-tanda amalan yang tak ikhlas dan tentunya sia-sia

Tuesday, December 1, 2009

JOM PAKAT FIKIR !!!!!!!!




RENUNGKAN..
ADAKAH KITA SAMA SEPERTI DALAM GAMBAR DI ATAS ????

LAWATAN KERUMAH ORANG TUA DI PUCHONG


penulis bergambar kenangan


antara sumbangan yang dibawa keperluan asas termasuk pakaian



Pn Nurasyimah menyampaikan sumbangan kepada Pn Muji pengasas rumah warga tua


Penerangan yang diberikan olen Pn Muji amat menyentuhati..Untuk Pengetahuan pembaca Pn Muji Menanggung sepenuhnya pengurusan Ramah ini menggunakan wangnya sendiri.Kebanyakkan penghuni ruamah ini dikalangan mereka Yang disisihkan anak mereka sendiri..